POSKOTASUMATERA.COM – DAIRI - Upaya Bupati Dairi Eddy Keleng Ate Berutu untuk mensejahterakan petani tidak main-main. Berbagai upaya dilakukan oleh Eddy Berutu agar penghasilan petani meningkat. Salah satu yang dilakukan adalah membuat kebijakan kawasan pertanian terpadu (KTP) Kecamatan Parbuluan.
Dalam hal
ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dairi dalam terus mendorong dengan
mengoptimalkan lahan yang selama ini kurang produktif dan memiliki hamparan
luas.
Bupati Dr
Eddy Keleng Ate Berutu didampingi Kepala Dinas Komunikasi Informatika, Aryanto
Tinambunan menerangkan, tahun 2022 ini, Pemkab Dairi meluncurkan program
kawasan pertanian terpadu (KPT) khusus komoditi hortikultura di Desa Parbuluan
V, Kecamatan Parbuluan. Tahap awal, telah disiapkan lahan seluas 22 hektar dari
target 400 hektar yang dikembangkan jadi KPT. “Pencanangan KPT akan kita
laksanakan Senin, 21 November 2022 (hari ini, Red). Pencanangan akan dihadiri
langsung Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi,” kata Eddy Berutu, Jumat
(18/11/2022).
Menurut Eddy
Berutu, program KPT merupakan wujud dan merealisasikan Agri Unggul yang
tertuang dalam visi misi Pemkab Dairi periode 2019-2024. Adapun visinya,
mewujudkan Dairi unggul yang mensejahterakan masyarakat dalam harmoni
keberagaman. Sedangkan Misi ke-1 dan ke-3 yakni, meningkatkan kualitas hidup
petani dan kesejahteraan masyarakat secara umum serta optimalisasi pengelolaan
potensi sumber daya alam daerah.
Selain
mengoptimalkan sumber daya alam (SDA) yang ada, menurut Eddy Berutu, sumber
daya manusia (SDM) petani juga harus mumpuni guna mendorong kesejahteraan
mereka. “Kondisi secara umum di Indonesia, petani masih termarjinalkan. Luas
lahan bisa dikelola sedikit, sehingga hasil produksi dan pendapatan petani
masih sangat minim. Begitu juga sarana produksi pertanian, pupuk serta bibit
sulit diperoleh petani. Harga pupuk juga mahal,” ungkapnya.
Dalam KTT G20
di Bali belum lama ini, kata Eddy, Presiden Joko Widodo mengajak semua kepala
negara anggota KTT G20, untuk sama-sama mengatasi permasalahan pupuk, supaya
pupuk tersedia bagi petani. “Bagi petani, pupuk itu nyawa sehingga harus jadi
perhatian bersama. Memang kita akui, krisis ekonomi dan kelangkaan pupuk
sekarang, tidak terlepas dari pasca pandemi corona virus disease 2019
(Covid-19) serta perang antara Rusia dan Ukraina,” ujarnya.
Terjadinya
kelangkaan bahan baku pupuk di Indonesia, kata Eddy Berutu, menyebabkan harga
mahal. “Kembali ke program KPT, awalnya kita sangat kesulitan memperoleh lahan.
Karena lahan yang kita butuhkan harus satu hamparan dan sangat luas, sehingga
skalanya sangat besar. Kalau terpisah-pisah dan kecil-kecil percuma saja,”
ujarnya.
Menurutnya,
program ini tidak mudah dan sangat sulit. Karena selama ini mereka (petani),
biasanya dapat pupuk bersubsidi. “Sementara, program yang kita gulirkan
skemanya beda. Mereka akan memperoleh pinjaman melalui kredit usaha rakyat
(KUR). Akhirnya kita mendapatkan lahan di Desa Parbuluan V total seluas 400
hektare. Selanjutnya, saya tetapkan lahan itu menjadi kawasan pertanian terpadu
melalui Keputusan Bupati Dairi Nomor 645/520/VII/2022 tanggal 12 Agustus 2022,”
ungkap Eddy Berutu.
Eddy Berutu
menjelaskan, untuk tahap awal luas tanaman holtikultura yakni untuk tanaman
bawang merah 50 hektare, kubis 100 hektare, kentang 100 hektare, cabai merah
100 hektare dan tanaman kopi sebagai tanaman tumpangsari pada seluruh lokasi.
“Selanjutnya, petani kita kumpulkan dan bicarakan komoditi yang akan
dikembangkan dan petani setuju dan lahan kita tes,” jelasnya.
Selanjutnya,
kata Eddy KA Berutu, program yang dikembangkan Pemkab Dairi tersebut
dipersentasikan kepada pemerintah provinsi lewat Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi.
Gubsu menyambut baik program dimaksud dan diusulkan ke Kementerian Pertanian
untuk pengembangan kawasan pertanian terpadu.
Sebelumnya,
jelas Eddy Berutu, Pemprovsu, telah mengundang 4 kabupaten/kota di Sumut
seperti Tapanuli Selatan, Madina, Dairi, dan Pakpak Bharat untuk program itu,
tetapi yang dipilih adalah Kabupaten Dairi. Untuk pengembangan KPT itu, akan
ditopang anggaran dari Kementerian, Pemprovsu, dan anggaran Pemkab Dairi.
“Anggaran APBD hanya diperuntukkan utk sarana infrastruktur seperti irigasi,
vertigasi, jalan akses, embung dan gudang (bila dibutuhkan), UPO dll
infrastruktur dasar. Sedangkan sarana produksi pembiayaannya melalaui KUR
Kluster,” ucapnya.
Tetapi, untuk
tahap pertama, pemerintah akan menyediakan bibit bagi petani. Karena ini baru
pertama, petani disediakan bibit, pupuk, mulsa. Sementara, lahan dan tenaga
dari mereka serta hasil semua untuk mereka. Tahap awal, untuk komoditas cabai
akan dikembangkan dilahan seluas 22 hektare.
Eddy
mengatakan, selain mendorong peningkatan kesejahteraan petani, program KPT
sebagai salah satu upaya Pemkab Dairi menjaga ketahanan pangan serta
pengendalian inflasi daerah. “Karena komoditi yang kita kembangkan dalam KPT
itu, salah satu adalah cabai merah. Di mana, cabai merupakan penyumbang inflasi
tertinggi selama ini,” ujarnya.
Petani yang
ikut program KPT ini akan mendapat bantuan modal dari PT Bank Sumut cabang
Sidikalang melalui kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah hanya 6% per
tahun dan dibayar pasca panen dan tidak perlu ada agunan. “Begitu juga dengan
hasil panen, dibeli Koperasi Aur Dairi Botanica, sehingga petani wajib menjadi
anggota koperasi produsen. Karena offtaker, tidak mau berhubungan langsung
dengan petani tetapi lewat harus lewat lembaga atau Koperasi dimaksud,” kata
Eddy Berutu.
Selain itu,
ada juga jaminan harga jika harga jual di pasaran turun. Jaminan harga pokok
produksi (HPP) plus persen yang memadai untuk margin bagi petani. “Jadi petani
dapat harga bawah atau harga atas juga. Karena dikelola Koperasi, maka petani
akan mendapat sisa hasil usaha (SHU). Jadi, Koperasi yang berhubungan dengan offtaker,
lembaga perbankan dan lainya guna memenuhi kebutuhan petani di bawah
pengawasan/kontrol dari pemerintah” tegasnya.
Eddy
menegaskan, program kawasan pertanian terpadu ini akan menggunakan
digitalisasi. “Sekarang, yang akan mau kita canangkan untuk lahan seluas 22
hektare untuk tanaman cabai. Paralel, akan kita siapkan tanaman kentang, karena
Indofood sudah pesan,” katanya.
Eddy
mengungkapkan, petani yang ikut program KPT, akan dibukakan kredit oleh Bank
Sumut. Untuk komoditi cabai merah, petani akan dapat plafon kredit sebesar
Rp100 juta setiap siklus panen per 4 bulan. Petani juga akan dapat kartu
koperasi sekaligus menjadi kartu bank. “Saya harapkan, melalui program ini
produktivitas naik. Kalau misalnya, produksi jagung kita selama ini hanya 10 ton
per hektare, kita harapkan jadi 15-17 ton per hektare,” sebutnya.
Produksinya
lebih tinggi, lahan sama dan hasilnya lebih banyak dan harga dijamin serta
bunga kredit rendah. “Intinya, program ini sebagai roda penggerak utama untuk
meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani kita. Harapan saya, ini petani
inti. Tetapi ada juga petani yang lebih besar yakni petani plasma. Kita ingin,
petani kita yang sekarang belum ikut program ini, akan mau mengikuti sistem
yang kita bangun sekarang, Biar mereka ditempat lain tidak apa-apa, nanti
Koperasi akan kita dorong untuk menggandeng dan membantu mereka,” ujarnya.
Kalau mau
belajar, kata Eddy, petani bisa datang ke KPT. Karena di sana akan ada sekolah
tani. Sehingga semua petani kita bisa datang belajar kesana nantinya. “Program
ini akan menguntungkan petani dengan kemudahan mendapatkan permodalan, sarana
produksi dan pendampingan maksimal penyuluuh pertanian lapangan (PPL),”
katanya. (PS/K.TUMANGGER).